“Hhhh, sudah jam 13.01” desah Kira pelan. Ia mempercepat langkahnya. Teman temannya mengikutinya dari belakang. Ada Aulia, Mila, Naya dan Ami. Kira mulai berlari kecil.
“Apa harus berlari untuk menuju gerbang?” tanya Naya dari belakang.
“Kita sudah telat” Kira menjawab Naya. Kemudian ia mempercepat larinya. Temannya juga begitu.
“Baru satu menit dari bel berbunyi. Mengapa harus cepat cepat?” sahut Ami yang berhenti berlari. Dan mengatur nafasnya. Ia sepertinya tidak kuat untuk berlari.
“Perjalanan menuju gerbang saja sudah makan waktu banyak loh! Gimana kita harus ke Taipeh Plaza? Belum tentu jalan bisa lancar, jika macet gimana? Kompetisi nya sudah mulai dari setengah jam yang lalu”
“Baiklah, mungkin Kira benar. Sebaiknya kita percepat langkah kita.” Aulia membela Kira. Semua temannya hanya bisa diam. Memang semua yang diucapkan Kira benar. Semuanya kemudian melanjutkan untuk berlari.
“Sudah sampai, silahkan masuk” ucap Kira spontan ketika melihat mobil sedan merah terparkir di parkiran. Yang lainnya langsung masuk. Kira memasuki bangku kemudi. Bersiap untuk menyetir. “Sudah dipasang sefety belt kalian?” tanya Kira.
“Jangan bilang kau akan melakukan itu lagi” Aulia yang duduk disebelah Kira langsung kaget dengan gaya Kira –yang biasanya tidak pernah mengingatkan untuk memakai sefty belt.
“Terpaksa kawan” ujar Kira pelan.
“Tuhan aku hanya bisa berserah padamu. Selamatkan hamba-mu ini” Ami berdoa dari bangku belakang.
Kira dengan penuh percaya diri hanya bisa tersenyum mendengar Ami berdoa. Langsung ia tancapkan sepatunya menekan gas full. Dengan cepat mobil sedan merah itu melaju ke arah Taipeh Plaza. Temannya hanya bisa menahan untuk berteriak. Kira masih cengar cengir. Puas memvuat temannya hampir mati jantungan. Wajah temannya mulai memerah.
“KYAAAAA!!!!! KIRA!!!!” Mila mulai berteriak. Mungkin Mila yang paling tidak tahan dengan aksi Kira. Jeritan Mila makin membuat aksi Kira lebih menyeramkan. Kira tersenyum dan menambah kecepatan mobilnya. Kali ini ia berhasil membuat temannya terkejut.
Taipeh Plaza – 13.17
“Kira! Kamu mau ngebunuh kami?” ucap Mila masih shock. Mila terlihat sangat kesal. Mukanya memerah. Ia seperti tomat yang siap akan meledak.
Kira hanya bisa cekakak-cekikik melihat muka Mila yang memerah. Tetapi ia lihat lagi temannya yang lain, muka mereka sama. Dingin. Dan memerah. Seakan habis dicekik oleh seseorang yang tidak ada pri kemanusian.
“Dasar ini anak. Malah ketawa. Seneng lihat temannya susah. Dasar bocah. Kagak bisa diandalin!” celetuk Ami.
“Hey cebol, siapa yang kamu bilang bocah? Kita lihat dulu dong. Hedeeh. Gini aja kok udah kayak mau mati jantungan. Biasa aja kali.” Kira berkacak pinggang. “Lagi pula. Siapa yang kamu bilang enggak bisa diandalin? Tanpa aku, kalian mungkin enggak bisa sampe di sini tepat sebelum setengah dua.”
“Sudah lah, jangan buang buang waktulah. Yok ganti baju. Masa’ mau tampil pakek’ pakaian sekolah. Nanti ngebuat ennggak menang. Hayo buruan sebelum tampil” Aulia mendinginkan suasana.
“Nanti dulu, Au. Ini masalah harga diri. Dari segi fisik dan non-fisik, aku ini sudah terhina” Kira mulai memulai awal dari perdebatan.
“Enak aja. Secara, kita ini juga punya nyawa. Masih sayang nyawa. Nyawa enggak bisa diganti dengan penghinaan fisik dan non-fisik. Tuhan juga pasti marah sama kamu, Kir. Ngebuat orang jantungan aja.” Ami juga mulai memanas.
“Ooh terserah. Tapi kita ambil sisi positif aja. Kalo enggak karena aku, kita pasti belum sampe disini. Dan dari faktanya, kalia semua masih hidup kok.” Kira nambah menjadi jadi.
“EITTSS!! All!! Mau gak sih ganti baju? Kalo kalian enggak mau ganti baju ya kami duluan ya.” Mila memotong perkelahian kami. “Yok Au, Nay!” Ajak Mila. Mila, Aulia dan Naya hilang dari pandangan. Kira dan Ami ditinggal berdua. Mereka bingung harus melakukan apa.
“Nah kan gara gara kamu aku ditinggal mereka ganti baju. Hadduh dasar” kira mulai lagi
“Dasar ini anak. Mulai lagi mau buat darah tinggi. Eh aku ini enggak usah ganti baju juga enggak ada pengaruhnya. Yang tampil itu kalian, kenapa aku yang harus repot”
“Bodo’. Yang penting ini salah kamu. Ya sudah, daa, aku mau ganti baju. Mau ikut enggak?” Kira berbalik dan mulai pergi menyusul Mila dan yang lain.
“Ya sudah, tunggu dulu hey!” Ami dari kejauhan berteriak.
**********
Satu minggu yang lalu, 08 Januari.
“Permisi, saya ingin mendaftarkan band. Untuk ikut lomba band ini.” Ami duduk disebuah meja di dalam ruangan. Disana terdapat staff yang menjadi panitia lomba.
“Baiklah, silahkan isi formulir ini.” Sodor orang itu sebuah formulir. Ami langsung dengan sigap mengisinya.
| Nama Band: Original Band Vocalist: Nama: Mil Ah (Mila) Asal sekolah: Taipeh Senior High School Gitaris: Nama: Kira Ramacel (Kira) Asal sekolah: Taipeh Senior High School Keiboard: Nama: Au Li’a (Aulia) Asal sekolah: Taipeh Senior High School Bass: Nama: -- Asal sekolah: -- Drumm: Nama: Nay Ah Li (Naya) Asal sekolah: Taipeh Senior High School Manager: Nama: Ah mi (Ami) Asal sekolah: Taipeh Senior High School Personil Tambahan: | |
| | |
“Ini sudah saya isi” ami kembali memberikan formulir itu
“Baiklah terima kasih, silahkan datang kesini lagi besok untuk undi nomor urut dan persyaratan lainnya. Tau persyaratannya?” panitia itu kemudian memberikan informasi
“Iya tau. Uang pendaftaran, Pass foto setiap personil bukan?”
“Iya benar.”
“Harus besok? Apa hari ini pendaftaran terakhir?” Ami mulai agak kaget
“Iya benar” panitia itu tersenyum.
“Huwaaaah aku beruntung bisa ada waktu luang hari ini” Ami teriak histeris dan berdiri dari tempat duduknya. “Sebagai manager, aku sudah hampir maksimal” Ami kemudian mengepalkan tangan kanan nya dan diangkat setinggi pundak nya *gaya bahagia-Banzaiiii hehehe*
Panitia yang duduk didepan Ami hanya bisa bengong melihat Ami kegirangan. Mungkin dipikirannya, Ami adalah orang gila yang baru keluar dari Rumah sakit jiwa, kemudia secara tidak sengaja ditunjuk untuk menjadi manager salah satu band. Atau mungkin ada dugaan yang lain, dia ini memang tidak waras dan mengarang semua personil band yang ia tulis ini. Ya mungkin itulah pikiran panitia itu. Panitia itu hanya tersenyum.
Ami berlari menuju pintu dan keluar. Di koridor, ia berteriak girang. Semua orang yang ia lewati hanya bisa memperhatikan gerak geriknya. Mungkin mereka ada yang berfikir, anak dibawah umur kok bisa ada disini, ini kan pendaftrannya paling minimal masih SMA. Lah itu kan anak kecil. Ya mungkin itu lah yang dipikirkan. Tinggi Ami tidak seperti ukuran anak kelas 3 SMA yang lain. Ia lebih pendek, mungkin dia cocok untuk anak setinggi 3 SMP. Bukan hanya postur tinggi tubuh yang mendukung, ia juga mempunyai wajah yang manis, yang imut, sehingga banyak yang mengira ia masih 1 SMP *ini lebih parah-gubrak* Ya mungkin sedikit terpaksa untuk menuliskan kata-kata ‘manis-imut’.
Akhirnya Ami yang terlalu girang sudah sampai didepan mobil, dimana Kira sudah menunggu.
“Bagaimana? Sudah daftar?” tanya kira
“Yup, sudah! He he he. Tebak, kapan pendaftaran terakhir??” Ami mulai tertawa kecil
“Hari ini, jam 18.00” Kira menjawab pertanyaan Ami. “Baiklah aku benar, bisa kita pergi sekarang?” Kira terlihat mulai bosan. Ya karena ia hanya menunggu sendiri.
“Baiklah kau benar, darimana tahu?”
“Terlihat jelas di koran ini” kira menunjukkan koran yang berisi tentang lomba antar band itu. “Cepatlah, kita bisa pergi sekarang? Kau tidak tahu bahwa aku daritadi menderita berdiri disini?”
“Baiklah kita bisa pergi sekarang.” Ami mulai mengalah.
Kira dan Ami akhirnya masuk mobil dan berangkat, pulang pastinya.
“Mau kemana kita?” Ami menunjukkan wajah manyun
“Tidak ke mana mana. Kau akan ku stopkan dimana?”
“Kok?”
“Kau ini sudah gila, kau meninggalkan ku sendiri menunggu, sedangkan kau pergi untuk mendaftar.” Kira berceloteh. “Eh salah, sepertinya tidak sendiri. Tadi aku mengobrol dengan cowok. Yang sporty.”
“Oh yeah? Siapa? Ceritakan”
“Baiklah”
Dua jam yang lalu didepan Taifan Radio FM
“sial. Ami meninggalkan ku sendiri disini. Apa yang harus aku lakukan” Kira keluar dari mobil, kemudian duduk di bangku taman. “aaah aku seperti orang bodoh disini.” Kira mengacak ngacak rambutnya seperti orang yang depressi.
Seorang cowok yang sedang bersiul lewat didepan Kira. Lagu yang disiulkan adalah lagu favorite Kira. Spontan Kira mendongak melihat cowok itu. Cowok itu sudah lumayan jauh dari tempat Kira. Tapi kemudian ia menoleh ke belakang.
“Eitts sepertinya aku pernah melihatmu” cowok itu melangkah mundur dan akhirnya berdiri di depan Kira. “Dimana ya” cowok itu mengelus ngelus dagunya. Berusaha mengingat.
“Kau ini siapa!” Kira sontak kaget dan lalu membentak cowok itu.
“Aku? Perkenalkan, namaku Xiao Oh Ri. Panggil saja aku Ori” cowok itu memajukan tangannya untuk berjabatan dengan Kira. Ia terseyum.
“Aku tidak menanyakan nama mu!” Kira memukul tangan cowok yang bernama Ori itu.
“Wah jangan marah dong.” Ori masih tersenyum. “Nama mu?”
“Kira, Kira Ramacel” jawab Kira
“Wah kau memang seperti orang yang ku kenal. Tadi siapa nama mu? Ramacel? Sama dengan nama orang yang ku kenal. Marga nya sama ya.”
“Ini bukan marga. Ini nama asliku. Dan mungkin teman mu itu kebetulan sama namanya denganku”
“Jika bukan marga, jadi apa? Yah memang sih kami hanya berkenalan satu tahun, tapi dia adalah first love ku. Dia sedang keluar negri. Untuk sekolah music.”
“Oh yeah, sama denganku dong, aku baru dari luar negri, setengah tahun yang lalu aku baru pulang ke Taipeh. Ramacel itu bukan marga, aku bukan keturunan asli Taiwan.”
“Oh yeah, jadi?”
“Aku Indonesia-Jepang”
“Kok mirip orang Taiwan asli sih?” Ori semakin masuk mengobrol dengan Kira.
“Mungkin karena blasteran Indo Jepang kali ya, Jepang kan agak chinese”
“Ooh mungkin ya kali. Hey apa memang kebetulan nama mu sama dengan temanku?”
“Entahlah, siapa nama teman mu? Siapa tau aku kenal”
“Namanya, Kirin Ramacel. Mirip dengan mu wajahnya.”
“Oh yeah? Entahlah sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi aku tidak kenal” Kira menjawabnya tanpa nada ketus. Ia semakin enjoy ngobrol dengan Ori.
“Begitu ya, tapi mirip sekali. Melihatmu aku menjadi rindu dengannya. Sebaiknya aku tidak harus berlama lama disini, aku harus pergi, atau aku akan semakin rindu dengannya. Bye Kira” ori pamit, kemudian ia berbalik.
“Ah Ori, lagu yang kamu siul-kan tadi, lagu Justin Bieber?”
“Ah iya benar, judulnya ‘You Smile I Smile’, itu lagu favorite kami berdua”
“Oh yeah? Itu juga lagu favorite ku. Jika kau sudah bertemu dengan pacarmu itu, sampaikan salam ku ya.”
“Iya tenang saja. Bye”
“Bye” Kira memandang punggung ori yang semakin menjauh.
--||--
“Eciyee sampai berkenalan segala. Hehe, eh Kira, tadi siapa namanya? Ori? Xiao Oh Ri?” Ami tertarik dengan cerita Kira.
“Iya nama nya Xiao Oh Ri. Kenapa?”
“Seperti ini kah wajahnya?” Ami mengeluarkan ponsel nya dari tad kecil nya itu.
“Iya seperti ini. Kok kamu bisa ada fotonya?” Kira bingung.
“Kamu tidak pernah dengar lagu ini?” Ami memutar lagu dari ponselnya.
“Ini lagu judulnya ‘Just Me’, aku lumayan menyukai lagu ini. Suara yang menyanyikannya merdu, apa lagi ia menyanyikannya dengan akustic” Kira menjawab.
“Kau tahu siapa yang menyanyikan ini?” Ami bertanya lagi. Kira menggeleng. “Yang menyanyikan ini Xiao Oh Ri!!”
“Benarkah?!?! Berarti tadi aku mengobrol dengan artis.”
“Ya mungkin bisa disebut begitu. Kau sungguh beruntung Kira, setiap kali aku ingin menonton konser Ori, pasti selalu duduk dipaling belakang. Menatap wajah Ori dari dekat saja tidak pernah, apa lagi mengobrol dengannya. Kau beruntung, sayang, aku harus mendaftarkan band tadi, jika tidak, aku bisa berbicara dengan Ori” sesal Ami.
“Oh mungkin kau tidak beruntung. Semoga kau bisa bertemu dengannya.” Kira bersimpati. “Ngomong ngomong, untuk apa artis seperti dia ada disini? Oh iya mungkin aku salah, seperti dia ada wawancara radio?” Kira mengada-ngada.
“Ha ha ha ha ha. Kamu ini lucu juga ya, Kir. Artis papan atas seperti dia tidak mungkin melakukan wawancara di radio. Susah untuk mengundang artis papan atas.” Ami tertawa lebar, tidak tahan dengan tingkah polos Kira.
“Papan atas? Sudah sehebat itu kah??” Kira polos
“Kau ini, sudah pernah sekolah music di Jepang, beasiswa lagi. Berarti kau sangat cinta dengan musik. Masa’ dia aja enggak tahu.”
“maaf, aku suka musik dan alunan lagu, yang aku tahu hanya lah judul lagu dan lain lain, bukan masalah artis papan atas atau papan bawah”
“Ya sudah. Hmm, sepertinya tugas manager. Dia mendaftarkan band yang ia rekomendasikan semenjak ia kelas 3 SMP.”
“Dia seorang manager? Dia mempunyai band khusus? Lalu bagaimana nanti dengan band kita. Nanti kita bisa kalah.”
“Tenang saja, kita kan punya pemain piano yang handal. He he he” Ami tertawa. Ami kemudian menyetel radio. Dan lagu di radio adalah lagu Ori. “Just Me… Lagu ini bagus. Aku hanya seorang yang ingin dicinta, oleh dirimu. Hanyalah aku, yang pantas dicinta oleh dirimu. Just me… woooh just me.. wooh just me to you. Just me to you.” Ami bernyanyi salah satu lyric lagu Just Me.
“Ckckckck Ami, jangan maksa kalo suara kagak bagus. He he he. Suara Ori disini merdu. Seperti dari dalam hati. Tulus ya” Kira berceloteh.
“Emang suara kamu bagus yak, Kir? Hehehe iya nih suara Ori disini bagus sekali. Apa mungkin cewek yang diceritakan padamu itu adalah inspirasinya dalam lagu ini? Siapa namanya tadi?”
“Kirin Ramacel. Entahlah, sepertinya begitu. Tadi saat ia bercerita, matanya sangat tulus. Kan katanya first love dia.”
“Dulu ori pernah cerita ke entertaiment bahwa ia punya pacar saat kelas 3 SMP. Malah katanya sampai sekarang masih. Aku masih penasaran. Tapi untunglah sepertinya pacar nya itu cantik dan punya skill.”
“Tau dari mana?”
“Di ceritamu tadi, Ori bilang kalo ceweknya itu mirip dengan kamu. Kalo dilihat lihat muka kamu itu enggak begitu ancur. Dan dia juga bilang kalo ceweknya sekolah music. Benar kan?”
“Oh iya ya. Hehe aku sendiri yang diceritakannya kok bisa lupa. Duh kira kira” Kira memukul mukul kepalanya.
“Oh iya Kir, ngomong ngomong, ada rumor kamu lagi dekat dengan Yabu Kota? Murid kuliahan yang sedang naik daun karena bakat akting nya itu loh. Kok kamu bisa kenal dia?”
“Oh Yabu Senpai. Aku udah nganggep dia kakak kandung aku loh”
“Kok? Apa tadi… Senpai? Apa itu? Kakak kandung? Kak Yabu mau kamu kemanain?”
“Senpai itu bahasa Jepang, artinya kakak. Dulu waktu di Jepang, dia yang bantuin aku. Dapet beasiswa kan susah. Apa lagi untuk anak yatim piatu kayak aku. Susah kan? Tapi ternyata Senpai itu temen dekatnya Kak Yuya. Jadi gak usah susah susah waktu di Jepang. Nah waktu balik lagi ke Taiwan, senpai juga ikut. Akhirnya jadi populer deh dia disini”
“Begitu kah? Jadi kamu memang dekat dengannya?”
“Ya iyalah, senpai kan sudah aku anggep kakak sendiri. Tapi bukan deket yang gimana gitu. Aku jujur loh, naksir sama adiknya senpai. Nama nya Hikaru, dia masih di Jepang. Aku bingung harus kapan bisa ketemu Hikaru lagi.”
“kenapa harus bingung? Ke jepang aja lagi. Kak Yuya kan dokter, uanganya juga banyak. Minta aja. Pasti dikasih. Apa lagi kamu satu satunya adik Kak Yuya. Kak Yuya juga baik tuh. Rumah kalian aja besar. Padahal gak ada orang tua. Itu berarti Kak Yuya itu kaya. Punya banyak uang”
“Hey rumah kami besar bukan karena dia aja. Aku juga sempat di Jepang menang berbagai kompetesi bermain piano. Jangan bilang kalo semua uang kami hasil kerja keras kak Yuya. Contoh aja nih mobil, ini hasil kerja keras aku. Kak rey selalu ngomong biar aku punya hasil kerja keras tersendiri.”
“Kak Yuya ngebuat kamu mandiri ya, Kir. Terus, yang namanya Hikaru itu gimana? Cerita dong”
“Hmm, Hikaru ya. Dia itu temen aku satu kelas di Senior High School musical Japan. SHSMJ. Dia itu baik, pinter juga main piano. Kami selalu duet kalo main piano. Kami dibilang para guru, kalo Kira dan Hikaru sudah bersatu, suara seberisik pasar pasti langsung hening.” Kira mulai terbuka.
“nah kir, kamu kan dapat beasiswa waktu kelas 3 SMP. Sebelum pindah ke Jepang, apa kamu enggak punya band? Semasa SMP?”
“Sudahlah, sudah pernah aku bilang kalo kejadian saat 1 & 2 SMP. Tapi sepertinya tidak ada. Tapi aku sepertinya kenal dengan salah satu band. Dan di band itu, aku sangat terpaku oleh pemain gitarnya. Keren banget!”
“Separah itu kah? Tidak bisa diingat? Ya sudah lah. Hei didepan belokan itu, aku stop disana saja.” Ami sepertinya turut bersimpati
“Yakin tidak ingin diantar sampai rumah?” Kira mulai menawarkan.
“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri kok. Kamu kan harus ikut lomba, jadi siapin diri ya!” Ami menolak. Ami membuka pintu dan kemudian keluar dari mobil.
**********
“Penampilan kita terlalu sederhana” Ami bersuara agak menghina
“Kita? Kami saja, kamu enggak” Kata Kira. Kira menjulurkan lidah nya. “Wekkk” ucap kira. Kira berbalik dan langsung mengambil ear phone nya. Dipasanganya dan dia mulai mendengar lagu. Suaranya yang mengetuk ngetuk meja terdengar.
“Dia sudah gila?” tanya Ami ke Mila dari belakang Kira.
Mila hanya tersenyum. Kemudian dia menarik tangan Ami. Mereka sekarang berada di sebelah Kira. “Kau lihat?” tanya Mila
“Lihat apa?” jawab ami bingung. Kemudian ia memperhatika Kira. “Dia benar sudah gila, tidak menyadari kita yang ada disebelahnya.”
Mila kemudian tertawa kecil. Ami hanya bisa bingung melihat mila. Cewek yang kira kira tinggi badannya 163 cm itu langsung menunjuk Kira. Jarinya yang putih hampir menyentuh kepala Kira. “Lihat ini?” Mila menunjuk sebuah ear phone hitam yang sedang dikenakan Kira. Ear phone itu memang tertutup rambut Kira. Sehingga orang akan mengira ia gila.
Ami hanya bisa bingung melihat tangan mila menunjuk kepala Kira. Tapi kemudian ia menyadari bahwa tangannya sedang menunjuk sesuatu. “Ear phone” gumam Ami. “Aku baru melihatnya. Rambutnya terlalu hitam” ami berkata pelan. Sedikit terpesona dengan rambut hitam Kira.
“Dia kan bukan orang taiwan asli. Indonesia dan Jepang. Wajar” Mila menjawab kekaguman Ami. “Dia sedang berlatih. Lihat kan?” ami kemudian mengangguk dengan penjelasan mila. “Dia mempunyai bakat, tapi masih berlatih, dia memang bukan anak biasa” Mila juga ikut terkagum dengan kemampuan Kira.
Dua orang itu hanya bisa mengagumi kira, tanpa sepengetahuan Kira. Cewek dengan rambut hitam asli itu benar benar tidak menyadari keberadaan temannya itu. Gadis kulit putih itu mengetuk ngetukkan jarinya ke meja. Sedikit demi sedikitia mengetukkan jarinya bersama sama.
Tiba tiba ada segerombolan cewek membuat satu kumpulan. “Dia datang” keluh mila. Mila hanya bisa geleng geleng ketika ia lihat ternyata temannya Naya dan Aulia juga mengikuti segerombolan cewek itu. “Aku juga ingin menyusul” kata Mila agak ragu. Dan ternyata ia pergi juga.
“Aku juga ingin, tapi Kira hanya sendiri disini. Masa bodoh. Yang penting sekarang bisa ketemu Ori.” Ami kemudian juga meninggalkan Kira.
Kira masih duduk sendiri dengan lagu yang menemaninya. Detukkan jarinya ke meja terdengar seperti sebuah irama lagu. Ia tidak sadar bahwa teman temannya menjadi centil karena satu orng cowok.
“Xiao Oh Ri…..!!! Wo Ai Ni” teriak seorang cewek yang berada didekat Ori.
Ori hanya bisa tersenyum. Kemudian menerima kotak coklat berbentuk hati. Ia tersenyum lagi. Semua cewek berteriak. Kemudian ia berkata “Wo Ai Ni” ke cewek tadi. Cewek tadi langsung ‘melting’ saat Ori berkata seperti itu. Gerombolan cewek itu makin berteriak ‘KYAAAA’ khas cewek centil. Ori terus berjalan dan tetap di kelilingi banyak cewek. Tapi tiba tiba tubuh Ori yang tinggi itu bergerak mundur. Dia melongokan kepalanya.
“Heyy, kau lagi” teriak Ori. Semua orang bingung, Ori kemudian berjalan. Dan kali ini, semua cewek itu menyingkir. Ori melekukkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Menaruh tangannya di dagunya. Seperti yang ia lakukan saat bertemu Kira. “Sedang apa kau disini, nona kecil?”
Kira diam, masih menghentakkan jarinya di meja. Tidak menyadari keberadaan Ori. Dan ternyata disisi lain, Aulia, Naya terheran heran melihat Ori mendekati Kira. “Dasar Kira bodoh” gumam Ami.
“Ada apa? Kenapa dengan Kira?” tanya Aulia.
Ami hanya senyum, kemudian berkata “Lihat saja apa yang akan terjadi” Ami kemudian maju ke sebalah Kira dan juga dibelakang Ori. “Tolong permisi” katanya sopan kepada Ori. Ori menoleh kemudian menyingkir dari depan Ami. “Hey maaf” bisik Ami ke kira. Mungkin memang percuma karena Kira tidak mendengar. Beberapa wartawan mulai berdatangan. Semua cewek centil itu menyingkir dan wartawan mulai mengambil gambar. Ami tetap tidak menghiraukan para wartawan. Ami memang pemalu. Tapi Ami tetap berani. Ia mencabut salah satu ear phone Kira.
“Hey apa yang kau lakukan!!” Bentak Kira. Para wartawan langsung melongo. “Siapa yang mencabutnya?!!” tanya Kira emosi.
“Aku” Jawab Ori. Ami terlihat bersalah. “Kita bertemu lagi nona kecil” apa Ori ramah dengan senyum. Kemudian Ori menundukkan tubuh agar bisa melihat wajah Kira. “Kau tetap cantik yah”
“Ha? Apa?” Kira heran.
Para wartawan langsung menyerbu pertanyaan ke Ori. Karena Ori memuji seorang gadis asing. Mulai dari menanyakan siapa dan hubungan. Ori hanya terdiam dengan senyum, Kira melongo, Ami ketakutan dan berlari. Tapi, tiba tiba ada satu wartawan yang bertanya. “Itu kekasihmu? Jawab aku Xiao Oh Ri?” tanya seorang wartawan.
“Kekasih? Ha Ha Ha Ha” Ori melihat nama wartawan tadi. “Kei Inoo? Itu nama mu tuan?” Ori mengambil nafas. “Seorang wartawan special dari Jepang? Untuk menyelidiki ku? Ha Ha Ha Ha” Ori tertawwa.
“Ya itu namaku. Silahkan panggil aku Inoo. Dan jujur, aku bukan untuk menyelidikimu. Aku ada perintah dari seorang sahabatku dari Jepang. Seorang yang terkenal danbaru naik daun di Jepang.” Jawab Inoo bangga.
“Oh yeah? Siapa itu? Boleh aku tau?” Ori penasaran
“Maaf tidak bisa di beri tahu. Jawab saja pertanyaan ku”
“Baiklah, akan ku jawab. Gadis ini adalah…” ia berhenti berkata kata. Kemudian ia menarik Kira ke pelukannya. Ia merangkul Kira. “Gadis ini, kekasihku”
judull ceritanya Look at Me!
BalasHapusmaaf gue makek nama temen, dan artis fav gue. Kagak ada inspirasi untuk namanya ^_-
BalasHapus